Investasi Millennial

Investasi merupakan hal penting untuk menata masa depan sehingga buat kamu yang sudah miliki penghasillan, harus mulai menyisihkan pendapatannya untuk pos investasi. Saat ini juga sudah banyak perusahaan investasi yang menawarkan investasi dengan nominal terjangkau.

Namun sebagian dari pekerja atau pelaku usaha masih berpikir berat untuk mulai berinvestasi. Banyak sekali alasan yang mereka ungkapkan mengapa sulit menyisihkan dana untuk investasi. Berikut adalah beberapa hal yang mungkin membuat kamu berat berinvestasi.

Penghasilan yang terbatas

Memiliki keuangan yang terbatas tampaknya hampir dirasakan oleh mayoritas generasi millennials. Bagi mereka yang masih sekolah atau yang kuliah, mereka saat ini cenderung hanya bergantung terhadap uang pemberian orang tua, sementara bagi yang baru bekerja mereka kemungkinan hanya mendapatkan gaji sebesar upah minimum provinsi.

Misalnya di DKI Jakarta yang di tahun 2018 telah menetapkan nilai UMP (upah minimum provinsi) 3,6 Juta. Dengan nominal tersebut tentu akan terasa sulit untuk menyisikan penghasilan ketika ternyata biaya pegeluaran kalian cukup besar, misalnya seperti biaya kosan Rp. 1.000.000, Transportasi Rp.500.000, uang makan Rp. 1.000.000 dan belanja bulanan + biaya entertain Rp.1.500.000, maka uang yang tersisa hanya Rp. 100.000.

Dengan sisa penghasilan yang terbatas tentu kalian akan sulit untuk menentukan apakah harus berinvestasi atau tidak.

 

The Latte Factor

Buku yang ditulis oleh David Bach yang berjudul The Latte Factor mengatakan bahwa untuk menjadi kaya yang diperlukan adalah melihat kebiasaan kecil keuangan yang dilakukan setiap hari dan memutuskan apakah uang yang habis untuk itu bisa dialihkan ke kebutuhan masa depan (menabung dan berinvestasi).

Diambil dari kata ‘latte’ mengacu pada pengeluaran kecil yang sifatnya rutin dan merupakan kebiasaan, tetapi jika diakumulasikan dalam setahun jumlah pengeluaran ini sangat besar. Kebiasaan merokok, minum kopi di kafe atau berlangganan tv kabel merupakan contoh kebiasaan-kebiasaan yang menghabiskan pengeluaran kecil dalam satu kali kesempatan namun akan besar jika diakumulasikan.

Jika kamu memiliki kebiasan minum secangkir cappucino di kafe yang berlokasi di gedung tempat kamu kerja, kamu bisa bayangkan pengeluaran kamu sebulan untuk kebiasaan ini. Anggap saja secangkir cappucino Rp35.000, maka selama sebulan (22 hari kerja) kamu menghabiskan Rp770.000 untuk kebiasaan di hari kerja ini. Bayangkan jika uang sebesar itu diinvestasikan di pasar modal atau forex yang berpotensi memberi return 20-100% per tahun, kamu bisa mendapatkan uang Rp 11 juta – 18,4 juta.

 

Pengaruh Lingkungan

Hasil survei yang dilakukan oleh American Institute of CPA di tahun 2013 terhadap responden berusia 25-34 tahun, menunjukkan sebanyak tiga perempat atau sekitar 78% responden memiliki kebiasaan keuangan yang dipengaruhi teman-temannya.

Sebanyak 60% dari mereka ingin memilki tempat tinggal di lokasi sama dengan pilihan tempat tinggal teman-teman mereka. Cara berpakain dan pilihan pakaian pun dipengaruhi teman-temannya (64%). Dan sekitar dua pertiga dari mereka ternyata memilih tempat makan dan gadget yang sama dengan teman-temannya.

Survei ini membuktikan bahwa teman sepergaulan tanpa disadari memiliki peran penting terhadap kebiasaan keuangan mereka. Kebiasaan ini tidak salah diikuti, namun jika menghabiskan dana yang besar dan hanya memenuhi keinginan daripada kebutuhan kamu maka harus dievaluasi. Pakaian, misalnya, tidak perlu yang mahal sampai berharga di atas Rp500.000 per potong, namun pilihlah yang terlihat pantas dan berharga di kisaran Rp200.000, sisanya Rp300.000 bisa kamu alihkan untuk berinvestasi. Demikian pula kebiasaan nongkrong di kafe tidak perlu seminggu sekali seperti kebiasaan teman kalian, namun cukup sebulan sekali.

Dengan mengerem keinginan kalian untuk mengikuti kebiasaan teman dan mengalihkannya ke investasi, kamu malah bisa mempengaruhi teman-teman kamu agar mau berinvestasi. Kamu bisa memberikan informasi betapa pentingnya investasi untuk masa depan mereka.

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://www.investasi-millennial.com/millennial-gak-punya-investasi-apakah-ini-pemicunya/
Twitter
YouTube

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *