Eugenie Patricia / Investasi Millennial

Bisnis makanan merupakan bisnis yang cepat berkembang namun padat pemain. Untuk menjadi pemimpin di bisnis ini diperlukan inovasi dan kepintaran melihat peluang. Hal ini yang dilakukan Eugenie bersama kakaknya Adrian dalam menjalankan bisnis puding Puyo sehingga kini berhasil membuka 45 outlet di pusat perbelanjaan di Jabodetabek dan Bandung.

Keberhasilan Eugenie dan Adrian yang kini masih berusia 24 tahun dan 26 tahun telah diakui media internasional sehingga mereka mendapat penghargaan sebagai salah satu pengusaha muda sukses Asia berusia di bawah 30 tahun versi majalah Forbes Asia.

Untuk mengetahui lebih dalam mengenai usaha puding Puyo sejak awal mula merintis usaha hingga cara pengelolaannya, investasi-millennial.com mewawancarai Eugenie, co-founder puding Puyo.

Berikut hasil wawancara kami dengan Eugenie di kantornya di kawasan Bumi Serpong Damai, beberapa waktu lalu.

Eugenie, bisa diceritakan awal mula mendirikan Puyo ?

Awal membangun Puyo saat saya berusia 19 tahun dan Adrian berusia 21 tahun. Di keluarga kami, ayah saya jago masak. Singkat cerita dia membuat puding yang bertekstur lembut khas Puyo sebagai hidangan penutup setelah makan malam namun belum ada rasanya. Kita semua suka puding buatan ayah dan melihat potensi untuk dijual kalau kita bisa mengemasnya dengan bagus. Setelah kita melakukan eksperimen selama tiga bulan untuk memilih rasa-rasa yang baru yang cocok untuk lidah dan selera anak-anak muda akhirnya kita meluncurkan Puyo pada tanggal 10 Juli 2013.

Apa/siapa yang mendorong kamu hingga akhirnya terjun ke bisnis ini, apakah ada hubungannya dengan kuliah bisnis? 

Yang mendorong saya ikut mengembangkan Puyo adalah Adrian karena dari dulu dia pengen jadi entrepreneur. Dengan adanya dorongan dari Adrian, dan saya juga tertarik, akhirnya saya terjun di bisnis ini.

Saya membuat Puyo ini sebelum kuliah bisnis dan dari awal impian saya menjadi interior desainer, bukan entrepreneur. Saat kita ingin jalankan bisnis ini kita sepakat kalau respons pasar bagus akan dilanjutkan kalau tidak, akan dihentikan. Namun dengan berjalannya waktu kita iseng jualan lewat instragram dan ikut-ikut bazar, ternyata laku dan banyak yang suka. Dari situlah kita berpikir untuk memperluas cara pemasaran, tidak hanya melalui online tapi kita juga harus jualan Puyo mall. Impian kita merek Puyo harus sama dengan merek-merek internasional lainnya yang berada di dalam mall-mall.

Akhirnya setelah beberapa bulan kita jualan online dan ikut bazar kita mendapatkan uangnya, sehingga kita putuskan untuk buka di mall di tahun 2013. dan saat itu belum banyak brand lokal yang bisa kita temukan di mall kecuali grup besar, kita ingin hadir di antara mereka dan kita percaya dengan kemampuan yang kita miliki. Kita tidak pernah menambah modal awal 5 juta rupiah untuk membeli kulkas bekas dan juga bahan baku untuk eksperimen sampai usaha kita berkembang telah miliki 45 outlet karena kita berhasil memutar modal itu. Modal itu berasal dari orang tua dan sudah dikembalikan. Tidak ada uang investor atau uang pribadi dari kami berdua.

Dengan menggeluti bisnis kuliner yang kekinian, apa yang menjadi tantangan agar selalu mendapatkan atensi dari para pelanggan khususnya para millennial?

Caranya kita harus imbangi 3 hal. Pertama, brandingnya pas dengan target market, tidak boleh terlihat eksklusif, tapi tetap terlihat fun dan dipercaya orang. Yang kedua, layanan karena layanan itu penting bagi sebuah brand agar terus sustainable. Dan yang ketiga, produknya itu sendiri harus berkualitas. Ketiga hal ini harus saling melengkapi. Untuk branding marketing, kita melakukan gimmick-gimmick, CSR , bikin acara-acara dan memberikan hadiah. Akun instagram Puyo terus diupdate dan kita sering umumkan promo di situ.

Dengan tim Puyo mayoritas terdiri dari generasi millennial, seberapa besar efek mereka terhadap Puyo?

Efeknya sungguh besar, karena ide-ide mereka luar biasa. Yang penting saya memperkerjakan orang yang lebih pintar dari saya, karena sebenarnya kita tidak perlu mempekerjakan orang yang tugas pekerjaannya bisa kita handle sendiri. Mayoritas orang yang bekerja di sini pintar dan saya merasa bersyukur memilki mereka sebagai bagian dari tim. Apa yang mereka kerjakan itu dampaknya sangat besar terhadap pertumbuhan Puyo dari nol hingga sekarang. Mereka sudah saya anggap seperti keluarga dan teman. Tidak ada hal yang lebih baik ketika datang ke kantor dan kamu senang.

Bagaimana cara anda merangkul mereka hingga menjadi tim yang hebat?

Pertama kita harus menjadi contoh bagi mereka, kakakku merupakan contoh bos yang baik. Kita terima masukan dari mereka sehingga mereka tidak takut mengeluarkan pendapat, bahkan karyawan kami yang di outlet aja bisa langsung kasih masukan ke Adrian, tidak perlu melewati birokrasi yang rumit. Dengan adanya keterbukaan itu semua jadi nyaman untuk satu sama lain.

Apa yang Puyo lakukan untuk meningkatkan kualitas di mata pelanggan?

Kita terbuka menerima keluhan dari pelanggan. Sebagai co-founder saya menekankan ke karyawan agar mau menerima feedback. Adanya keluhan pelanggan bukan berarti sesuatu yang negatif, namun complain atau keluhan itu bisa membuat kita berkembang. Kita sering melakukan survei ke pelanggan karena kita ingin adanya komunikasi dua arah sehingga kita bisa memberikan produk yang lebih baik ke pelanggan. Memang kita tidak boleh gampang percaya terhadap pendapat satu pelanggan karena semua orang miliki pandangan yang relatif, sehingga biasanya kita lakukan survei kembali ke teman-teman dekat atau pelanggan acak Puyo. Kalau kita sudah menemukan titik temunya baru kita melakukan perubahan.

Setelah Puyo memiliki 45 outlet dan sudah berhasil menguasai pasar Jabodetabek, apa target selanjutnya?

Target kita adalah ingin go internasional, kita ingin menjadi sebuah merek makanan yang bisa dibanggakan oleh Indonesia dibandingkan dengan F&B internasional yang sudah masuk ke Indonesia dan dibanggakan oleh anak-anak Indonesia.

Namun untuk jangka pendek kita mau melebarkan bisnis ke luar kota. Outlet kita terjauh saat ini di Bandung. Saya berharap beberapa bulan atau tahun mendatang kita bisa ekspansi ke kota-kota di Indonesia, setelah itu kita fokus ke internasional.

Di era sekarang yang serba online, kegiatan apa saja yang dilakukan Puyo dengan memanfaatkan platform media sosial tersebut?

Kita saat ini menggunakan platform yang ada seperti Instagram, itu adalah salah satu aset marketing terbesar Puyo. Di situ kita sering melakukan game-game untuk berinteraksi dengan pelanggan lewat direct message (DM). Melalui fasilitas DM di Instagram, semua orang sering memberikan feedback yang positif sampai ke negatif seperti complain terhadap layanan suatu booth. Jika ada complain  yang benar, maka kita akan berikan kompensasi seperti e-voucher (salah satu bentuk teknologi masa kini). Tidak hanya itu, kita juga berikan konten yang positif di instagram seperti dokumentasi kegiatan CSR kita seperti pembukaan taman bacaan dari Puyo di Flores berkolaborasi bersama Chelsea islan.

Mengapa terfokus pada Instagram, bagaimana dengan media sosial lainnya?

Selain Instagram, kita juga punya akun Facebook, Twiter dan Line. Namun instagram sendiri menurut saya adalah media sosial yang mudah untuk digunakan dan bagus sekali untuk visual. Media sosial lain kurang bagus untuk visual, sedangkan Puyo adalah all about visual, kalau produk baru fotonya bisa di tag orang. Kita tidak mempromosikan produk seperti halnya seorang motivator yang pandai menggunakan kata-kata, namun kita lebih ke visual. Itu alasan mengapa kita fokus ke Instagram, namun postingan kita di Instagram juga terhubung ke semua media sosial kita lainnya.

Dengan visi Puyo yang ingin menjadi merek F&B kelas dunia, apa saja yang sudah dilakukan untuk mencapai target tersebut dan apa saja pencapaian yang sudah anda raih untuk menuju ke arah sana?

Kita sudah melakukan beberapa riset setahun terakhir dengan berkeliling Asia, seperti Malaysia, Taiwan, Shanghai, Jepang, Singapura dan Thailand untuk melihat pasar di sana. Di Malaysia kita juga sudah bertemu berberapa pebisnis di sana, melakukan riset dan membawa contoh puding Puyo untuk dibagikan ke teman-teman di sana untuk tes pasar. Secara hukum juga kita sudah mendalami di setiap negara tersebut, jadi saat kita harus langsung buka, tidak dari nol. Kita sudah memiliki  beberapa koneksi di sana. Walau rencana ini belum pasti, tidak ada salahnya dipelajari dari sekarang.

Dari semua negara yang sudah dipelajari, mana yang paling memungkinkan untuk ekspansi Puyo dalam waktu dekat?

Mungkin Malaysia, karena pelanggan di sana mirip dengan di Indonesia, seperti rasa, tempat jual di mall. Sama seperti di sini, di Malaysia penjualan produk F&B paling ramai adalah di mall, cocok untuk Puyo yang merupakan  produk yang bisa ditemukan di mall, serta masuknya paling mudah.

Dengan terpilihnya Anda dan Adrian dalam sebagai entrepreneur sukses Forbes Under 30 Class of 2018 apa motivasi selanjutnya, dan apakah ada potensi untuk kerja sama dengan para pemenang lain yang tergabung di sana?

Pasti termotivasi sekali, karena ketika datang ke penghargaan Forbes 2018 di Hong Kong, saya melihat semangat anak-anak muda (sesama peraih penghargaan) sangat tinggi. Dari pengalaman mereka ini timbul motivasi, seperti harus cepat berekspansi, meningkatkan Puyo dari segala sisi, dan lebih cepat go internasional, jadi tidak hanya mendapat penghargaan Forbes Under 30 lalu selesai. Sisi baiknya kita ada di komunitas Forbes tersebut adalah kita mendapatkan koneksi, karena di sana kita dikasih waktu untuk networking, ngobrol dengan siapapun yang mendapatkan gelar itu, yang berasal dari Singapura, Malaysia, India, Vietnam, dan Australia. Kita saling bertukar kontak, dan saya sangat bersyukur untuk itu, karena ke depannya jika ingin ekspansi ke luar negeri koneksinya sudah ada. Lebih dari sekedar acara penghargaan, koneksinya setelah acara jauh lebih berharga.

Dengan keberhasilan secara finansial seperti saat ini, apakah anda berinvestasi?

Yang pasti dengan adanya Puyo saya dapat uang tambahan adalah menabung, karena menabung itu penting, jadi saya juga banyak belajar dari Papa saya yang secara gak langsung menjadi penasihat keuangan saya yang misalnya menyarankan pelan-pelan beli properti dan cara menabung yang efektif seperti apa, dan lain-lain.

Terakhir, sebagai millennial Indonesia yang berhasil bisa berikan saran untuk menjadi motivasi bagi yang lainnya untuk berani berinvestasi untuk merdeka secara finansial?

Untuk yang saya selalu katakan kepada teman-teman di sini, yang saya selalu tanamkan adalah untuk memiliki pemikiran yang terbuka. Kita sebagai millennial yang di jaman sekarang memiliki akses yang begitu mudah untuk belajar dimana-mana, maka belajar itu penting. Bukan hanya belajar di kampus, meskipun itu penting juga, namun kita harus miliki pemikiran yang terbuka dengan belajar dimanapun dan kapan pun, misalnya dari teman, membaca buku, ikut seminar-seminar, nonton di youtube, interview dengan orang sukses, itu yang saya lakukan setiap hari. Jangan kita merasa puas diri saat kita sudah berprestasi sudah merasa pintar, tutup buku dan tidak menerima masukan dari orang lain.

Dengan berpikiran terbuka kita bisa mendapatkan ide-ide baru dan bisa menginspirasi kita untuk melakukan hal yang lebih baik, karena ketika kita tumbuh maka bisnisnya juga tumbuh. Namun jika kita sudah menutup diri maka bisnisnya juga akan mandek dan saya ingin anak-anak muda lebih terbuka pikirannya, belajar, jangan malu untuk bertanya, karena banyak yang merasa pintar sehingga tidak mau terima masukan dari orang lain.

Siapa guru tersukses Anda?

Saya belajar dari semua sisi, hanya mungkin bisa saya bilang orang tua saya, karena dari umur 19 tahun saya gak tau tuh cara menerima pekerja, cara membuat kesepakatan dengan orang yang lebih tua dari saya, takut sebagai “anak kecil”, takut direndahkan, namun disitu orang tua mengajari saya, cara mengambil keputusan kecil, keputusan bijak hingga keputusan yang tidak populer, semua nilai-nilai yang ditanamkan ke saya dan Adrian datang dari orang tua saya.

 

Demikianlah hasil dari pembicaraan kami tim investasi millennial dengan Eugenie Patricia di kantornya. Semoga memberikan banyak manfaat bagi kalian. Nantikan hasil wawancara kami lainnya dengan para millennial Indonesia.

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://www.investasi-millennial.com/eugenie-patricia-raih-penghargaan-forbes-dari-bisnis-puding/
Twitter
YouTube

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *