SBR Vs. Deposito / Investasi Millennial

Kementerian Keuangan Republik Indonesia baru saja meluncurkan Saving Bond Ritel seri kelima di Februari ini. Apakah kalian sudah tahu produk investasi yang dikenal dengan singkatan SBR ini? Untuk kalian ketahui, dengan kata kunci Bond, berarti SBR adalah surat utang, yang artinya pembeli SBR ini memberi utang ke pemerintah yang punya kewajiban membayar pokok utang saat jatuh tempo dan juga bunga per tahun ke pemilik SBR ini.

SBR adalah salah satu instrumen investasi yang termasuk baru dan aman karena yang mengeluarkan adalah pemerintah, artinya dijamin pemerintah dan bukan investasi bodong.

Lalu bagaimana bila dibandingkan dengan investasi konvensional lainnya, misalnya deposito, kira-kira mana yang menguntungkan untuk kita?

Saving Bond Ritel

SBR adalah salah satu jenis investasi terkini yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementrian Keuangan (DJPPR) dan untuk tenornya yang seri kelima ini adalah 2 tahun.

Selain aman, ada beberapa kelebihan SBR yaitu tidak ada risiko turunnya suku bunga, serta adanya fasilitas pencairan atau early redemption dana yang lebih cepat sebelum jatuh tempo. Nilai minimum pemesanan SBR pun sudah diturunkan dari semula Rp5 juta pada seri pertama di tahun 2014, menjadi hanya Rp1 juta, sangat terjangkau bukan? Selain itu dengan memiliki SBR ini kalian ikut berkontribusi membangun negeri karena dana yang dihimpun dari penjualan SBR ini digunakan untuk pembangunan di Indonesia.

Tingkat besaran bunga SBR akan disesuaikan oleh perubahan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI 7-Day Reverse Repo Rate yang akan ditentukan dalam kajian Rapat Dewan Gubernur BI yang dilakukan hampir setiap bulan, dengan saat ini SBR 005 ditawarkan di level 8,15% (suku bunga BI 6% + suku bunga mengambang 2,15%).

Jika seandainya suku bunga acuan BI turun ke depannya, maka suku bunga SBR tetap di level 8,15%, tidak akan ikut merosot, namun jika BI kembali menaikan suku bunganya, misalnya 25 basis poin, maka suku bunga SBR akan naik menjadi 8,40%, mantap bukan?

Namun, selain return yang sangat lumayan, kalian harus ingat bahwa ada kewajiban dari pemilik SBR ini, yaitu adanya potongan pajak sebesar 15% di bunga SBR, namun pajak ini tetap lebih kecil dari deposito yang sebesar 20%.

Deposito

 

Setelah membahas mengenai kelemahan dan kelebihan SBR, maka tidak adil jika tidak membahas produk deposito, yang termasuk jenis investasi dengan risiko rendah karena dana kalian dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dengan tanggungan maksimal Rp2 miliar.

Sementara itu jika yang belum paham deposito, deposito adalah produk simpanan di bank yang penyetorannya maupun penarikannya hanya bisa dilakukan pada waktu tertentu. Untuk tenornya berkisar 1-24 bulan, berarti tenor terpanjangnya sama dengan tenor SBR bukan?

Keuntungan dari deposito yaitu risikonya rendah karena tidak terpengaruh oleh kondisi pasar keuangan serta suku bunga yang lebih tinggi dari suku bunga tabungan.

Untuk kalian yang ingin mengetahui jenis-jenis deposito bisa dilihat disini : http://www.investasi-millennial.com/macam-macam-jenis-investasi-deposito-mana-pilihanmu/

Memang untuk masalah suku bunga, deposito kalah dari SBR, namun masih unggul daripada tabungan biasa. Karena kelebihan utamanya adalah risiko yang sangat minim dan cocok untuk investor yang berprofil risiko konservatif. Hanya, untuk suku bunga deposito akan mengikuti suku bunga BI 7-Day Reverse Repo yah teman-teman. Jadi kalau misalnya suku bunga turun, maka suku bunga deposito cenderung akan turun, begitu juga untuk sebaliknya.

 

 

 

 

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://www.investasi-millennial.com/banyak-kelebihan-sbr-dari-deposito-jangan-tunda-untuk-membeli/
Twitter
YouTube

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *